Rabu, 10 September 2014

Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitati

Dalam dunia penelitian,dikenal dua metode Besar yakni kuantitatif dan kualitatif.Isu - isu mengenai kelemahan dan Keunggulan,analisis data serta aplikasi.Diantara kedua metode tersebut telah menjadi perdebatan hangat  bahkan menimbulkan war pardigma dikalangan peneliti.
Penelitian kuantitatif bertujuan mencari hubungan yang menjelaskan sebab - sebab dalam fakta - fakta sosial yang terukur. Secara spesifik metode kuantitatif bertujuan untuk menggenalisir,memprediksi,dan penjelasan kausal.

Penelitian kualitatif lebih diarahkan untuk memahami fenomena - fenomena sosial dari prespektif partisipan. Dengan kata lain , metode kualitatif bertujuan untuk kontekstualisasi(contextualion), penafsiran (interpretasi), dan memahami perspektif pelaku (understanding actors’ perspectives).

 Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif

Metode Kualitatif:
  • Desain: umum, fleksibel, berkembang, tampil dalam proses penelitian
  • Tujuan: memperoleh pemahaman makna verstehen, mengembangkan teori, menggambarkan realitas yang kompleks
  • Teknik Penelitian: Observasi, participant observation, wawancara terbuka
  • Instrumen Penelitian: Human instrument, buku catatan, recording
  • Data: deskriptif, dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan responden, dokumen, dll
  • Sampel: kecil, tidak representatif, pusposif
  • Analisis: terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian, induktif, mencari pola, model utama
  • Usulan Desain: singkat, sedikit literatur, pendekatan secara umum, masalah yang diduga relevan, tidak ada hipotesis, fokus penelitian sering ditulis setelah ada data yang dikumpulkan dari lapangan.
  • Hubungan dengan Responden: empati, akrab, kedudukan sama, setara, jangka lama

Metode Kuantitatif:
  • Desain: spesifik, jelas, terinci, ditentukan secara mantap sejak awal, menjadi pegangan langkah demi langkah demi langkah
  • Tujuan: menunjukkan hubungan antara variabel, mentest teori, mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
  • Teknik Penelitian: eksperimen, survey, observasi berstruktur, wawancara berstruktur
  • Intrumen Penelitian: test, angket, wawancara, skala, komputer, kalkulator
  • Data: Kauntitatif, hasil pengukuran berdasarkan variabel yang dioperasionalkan dengaan menggunakan instrumen
  • Sampel: besar, represntatif, sedapat mungkin random
  • Analisis: pada taraf akhir setelah pengumpulan data selesai, deduktif, menggunakan
          statistik
  • Hubungan dengan responden: berjarak, sering tanpa kontak langsung, hubungan antara peneliti - subjek jangka pendek
  • Usualan Desain: luas dan terinci, banyak literatur yang berhubungan dengan masalah, prosedur yang spesifik dan terinci langkah-langkahnya, masalah diuraikan dan ditujukan kepada fokus tertentu, hipotesis dirumuskan dengan jelas dan ditulis terinci dan lengkap sebelum terjun ke lapangan.
  • Penelitian kualitatif dan kuantitatif digunakan sebagai tolak ukur untuk memperhitungkan suatu objek dan menghasilkan data yang akurat. Penelitian sering dilakukan oleh orang-orang yang sedang meneliti suatu peristiwa dan mencari informasi. Didalam penelitian terdapat dua macam yang bisa dilakukan. Jika menginginkan mencari suatu informasi didalam kehidupan bermasyarakat, dengan data yang diperoleh berupa fakta langsung yang diucapkan oleh warga sekitar atau objek manusia. Dan ada pula penelitian kuantitatif yang menitikberatkan pada objek angka atau perhitungan suatu objek.

    Kualitatif adalah sebuah penelitian yang tidak bisa di peroleh atau diukur menggunakan prosedur-prosedur statistik. Penelitian ini sering di gunakan sebagai penelitian tentang kehidupan masyarakat, seseorang peneliti menjelaskan penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif dengan kata-kata tertulis atau lisan dengan seorang pelaku yang sedang diamati. Sedangkan kuantitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan pengumpulan data dan hasil analisis untuk mendapatkan informasi untuk mendapatkan kesimpulan.

    Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif adalah metode penelitian kuantitatif membuat deskrifsi sebuah objek yang sangat fenomena terbatas. Dan kualitatif metode penelitian kejadian dengan memperhitungkan konteks.

    Adapula manfaat yang dapat diperoleh dari kedua penelitian tersebut adalah Metode penelitian ini berperan sebagai, pengamat, cara, proses, dan prosedur untuk menjadi karya ilmiah yang bisa di teliti sehingga menjadi bermanfaat. Maka dari itu penelitian kualitatif dan kuantitatif memiliki manfaatnya sendiri-sendiri. Dalam metode kualitatif di tunjukkan untuk beberapa hal, antaranya ialah memperoleh pemahaman makna pada Sesuatu hal yang ingin di teliti, menemukan teori-teori agar bisa menjadi karya ilmiah. Sementara penelitian kuantitatif bertujuan untuk menunjukkan hubungan variable, dan menganalisa. Dan tujuan penelitian kualitatif secara kontekstual, berperan sebagai pemahaman penelitian fenomena yang di perhatikan.

    Maka penelitian kualitatif dan kuantitatif adalah penelitian yang bersifat ilmiah. Perbedaan kualitatif dan kuantitatif bisa juga kita lihat dari paradigma, yaitu penelitian kualitatif yang di pakai adalah paragima alamiah yang berdasarkan sumber dari pandangan fenomenologis. Beda dengan penelitian kuantitatif yaitu paradigmanya berasal dari pandangan positivism. Dan juga bisa di lihat dari maksud sebuah penelitian itu sendiri. Dan kedua penelitian ini bisa di sebut sebagai penelitian yang bertentangan.

    Selasa, 12 Agustus 2014

    PPBI (Perencanaaan dan Pengajaran Bahasa Inggris)

    1.      Apa yang dimaksud dengan RPP?
    2.      Apa saja komponen minimal RPP?
    3.      Bagaimana format RPP yang dapat dikembangkan?
    4.      Bagaimana tujuan pembelajaran dalam RPP dirumuskan?
    5.      Bagaimana materi pembelajaran dalam RPP dikembangkan?
    6.      Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran dalam RPP?
    7.      Komponen apa saja yang terdapat pada langkah pembelajaran dalam RPP?
    8.      Bagaimana sumber belajar dalam RPP ditentukan?
    9.      Bagaimana menyusun perencanaan penilaian dalam RPP?
    JAWABAN.1.a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran [RPP] adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pem belajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.
    b) Rencana pelaksanaan prosedur pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.
    c) RPP berkarakter merupakan sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang menuntut penanaman karakter pada murid seperti Disiplin (discipline), Rasa hormat dan Perhatian (respect), tanggung jawab (responsibility) maupun karakter lainnya yang diharapkan bisa dimiliki oleh murid saat proses pembelajaran berlangsung maupun setelah Pembelajaran berlangsung.
    Ada 3 Aspek yang sangat Penting yang harus kita Garis bawahi dalam menerapkan RPP berkarakter Eksplorasi Elaborasi dan Konfirmasi kepada anak didik kita antara lain sebagai berikut
    1. Eksplorasi
    Saat Proses Pembelajaran berlangsung maka seorang guru sebaiknya mengeksplorasi pengetahuan anak didiknya dengan cara menghadirkan pengalaman maupun pengetahuan baru kepada peserta didiknya. Hal inilah yang disebut dengan Eksplorasi
    2. Elaborasi
    Dalam Kegiatan Elaborasi diharapkan guru mampu menambah pengetahuan dan wawasan murid dari berbagai macam referensi dan buku buku serta menghadirkan Kerjasama dengan sesama murid.
    3. Konfirmasi
    Dalam Kegiatan Konfirmasi diharapkan guru mampu merangkum semua materi pelajaran maupun hal hal lain yang di anggap perlu untuk di refleksi . Guru bisa melibatkan Murid dalam merangkun dan memberikan kesimpulan dari materi pelajaran yang telah dibahas.
    Perbedaan Rpp mata pelajaran dan Rpp tematiK Rpp mata pelajaran
    Rpp tematik
    Tercantum identitas kelas
    Tercantum identitas kelas
    Terdapat tema
    Terdapat sub tema
    Tercantum minggu/ hari
    Tercantum minggu/ hari
    Adanya alokasi waktu
    Adanya alokasi waktu
    Hanya terdapat 1 kompetensi dasar dan hanya untuk 1 mata pelajaran
    Terdapat beberapa kompetensi dasar dari beberapa mata pelajaran
    Tercantum indicator
    Tercantum indicator
    Adanya tujuan pembelajaran
    Adanya tujuan pembelajaran
    Adanya materi pokok
    Adanya materi pokok
    Tercantum metode
    Tercantum metode
    Terdapat langkah pembelajaran (kegiatan awal, inti, penutup)
    Terdapat langkah pembelajaran (kegiatan awal, inti, penutup)
    Terdapat alat/ bahan/ sumber
    Terdapat alat/ bahan/ sumber
    Adanya penilaian
    Adanya penilaian
     Maka ringkasnya RPP adalah rencana operasional kegiatan pembelajaran setiap atau beberapa KD dalam setiap tatap muka di kelas. Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) Komptensi Dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.2.      Komponen RPP (minimal) yang harus dikembangkan:1)Tujuan pembelajaran;
    Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
    2)Materi dan sumber pembelajaran;
    Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe tensi.
    Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
    3)Metode dan media pembelajaran;
    Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
    Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
    4)Skenario pembelajaran; dan
    Skenario pembelajaran adalah rancangan aktivitas belajar yang dibuat oleh guru untuk mencapai KD tertentu sesuai dengan silabus yang telah dibuat oleh guru.
    5)Penilaian hasil belajar.
    Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian
    3.Format RPP yang dapat dikembangkan.4. Rumusan Tujuan Pembelajaran dalam RPP.Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran dibuat berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Tujuan ini difokuskan tergantung pada indikator yang dirumuskan dari SK dan KD pada Standar Isi mata pelajaran yang akan dipelajari siswa.
    5. Pengembangan Materi Pembelajaran dalam RPP.1) Mengidentifikasi jenis-jenis isi materi ajar, seperti materi ajar berupa fakta, konsep, prinsip, atau prosedur yang sesuai dengan indikatorPada saat menurunkan KD ke dalam indikator, sesungguhnya kita juga telah mengidentifikasi jenis-jenis materi ajar. Misalnya, indikator mengidentifikasi bentuk pantun berisi jenis bahan ajar berupa pengetahuan prosedur dan konsep; indikator praktik menulis pantun berisi jenis bahan ajar keterampilan. Artinya, dalam satu KD dapat terdiri atas beragam jenis isi bahan ajar. Dengan demikian, berdasarkan isi bahan ajar, terdapat jenis bahan ajar berupa pengetahuan, seperti pengetahuan tentang latar cerpen; bahan ajar berupa sikap, seperti pemberian tanggapan yang harus didasari oleh data-data otentik; dan bahan ajar berupa keterampilan, seperti keterampilan membacakan puisi.
    Untuk lebih mempermudah cara pengidentifikasian di atas, dapat kita buat
    tabel berikut ini.
    Contoh Daftar Jenis Isi Bahan Ajar
    No
    Jenis Isi Bahan Ajar
    contoh
    1.Pengetahuan ( prosedur dan konsep)
    Prosedur menemukan bentuk pantun dan konsep tentang bentuk pantun
    2.Keterampilan (hasil)
    Praktik menulis pantun
    3.sikap
    Menyunting pantun berdasarkan ketepatan syarat-syarat pantun
    2) Memilih jenis pengembangan materi pembelajaran, yakni jenis pemilihan,penyusunanPengembangan materi pembelajaran dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti penyusunan, pengadaptasian, pengadopsian, penerjemahan, dan perevisian. Penyusunan merupakan proses pembuatan bahan ajar yang dilihat dari segi hak cipta milik asli si penyusun. Proses penyusunan itu dimulai dari identifikasi seluruh SK dan KD, menurunkan KD ke dalam indikator, mengidentifikasi jenis isi bahan ajar, mencari sumber-sumber belajar, sampai kepada naskah jadi. Wujudnya dapat berupa modul, lembar kerja, buku, e-book, diktat, handout, dan sebagainya. Pengadaptasian adalah proses pengembangan bahan ajar yang didasarkan atas bahan ajar yang sudah ada, baik dari modul, lembar kerja, buku, e-book, diktat, handout, CD, film, dan sebagainya menjadi bahan ajar yang berbeda dengan karya yang diadaptasi. Misalnya, bahan ajar Bahasa Indonesia diadaptasi dari buku teks pelajaran bahasa Indonesia yang telah beredar di pasar (toko buku) yang disesuaikan dengan kepentingan mengajar pendidik. Penyesuaian itu dapat didasarkan atas SK dan KD, tingkat kesulitan, atau tingkat keluasan. Bahan ajar yang baru kita buat, misalnya diwujudkan ke dalam bentuk modul. Pengadopsian adalah proses mengembangkan bahan ajar melalui cara mengambil gagasan atau bentuk dari suatu karya yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, pendidik mengadopsi gagasan atau bentuk model buku pelajaran Bahasa Indonesia yang telah dikembangkan oleh Pusat Perbukuan (sekarang Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud) menjadi bahan ajar Bahasa Indonesia yang baru, baik dalam wujud modul, lembar kerja, buku, e-book, diktat, maupun handout. Perevisian adalah proses mengembangkan bahan ajar melalui cara memperbaiki atas karya yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, seorang pendidik Bahasa Indonesia telah menulis buku pelajaran Bahasa Indonesia (dalam bentuk buku sekolah elektronik atau BSE). Kemudian, karena ada penataan kurikulum sehingga jumlah KD berkurang atau bertambah, buku tersebut dapat diperbaiki. Penerjemahan merupakan proses pengalihan makna suatu buku (model buku teks pelajaran, misalnya) dari yang awalnya berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, ada buku tentang model pembelajaran bahasa. Buku tersebut berbahasa Inggris. Kemudian, kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
    3) Memilih wujud jenis pengembangan materi ajar (dapat berbentuk modul, lembar kerja peserta didik, buku, e-book, diktat, ataupun handout).Wujud dari jenis pengembangan bahan ajar dapat berbentuk modul, lembar kerja, buku, e-book, diktat, ataupun handout. Modul merupakan bentuk pengembangan bahan ajar. Biasanya, modul dijadikan sarana belajar mandiri bagi peserta didik. Karena diperuntukkan bagi belajar mandiri peserta didik, bahan ajar berwujud modul harus dapat dengan mudah dipelajari peserta didik tanpa bantuan langsung pendidik. Lembar kerja peserta didik (LKS) merupakan salah satu bahan ajar yang dikembangkan oleh pendidik. Jika LKS yang sekarang berkembang di pasar lebih diarahkan agar peserta didik mampu menghapal masalah-masalah dengan berbahasa dan bersastra, pendidik tentu dapat melakukan inovasi sehingga LKS menjadi sarana berlatih dan unjuk kerja peserta didik. Inovasi ini dapat dilakukan dengan berlandaskan orientasi belajar kontekstual. Terdapat empat jenis buku pendidikan, yakni buku teks pelajaran, buku panduan pendidik, buku pengayaan, dan buku referensi. Bentuk pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia dapat diarahkan kepada minimal keempat jenis buku pendidikan tersebut. Pengembangan bahan ajar ke dalam wujud buku ini haruslah sesuai dengan standar isi. Arah bahan ajar bahasa Indonesia adalah terbangunnya kemampuan atau kompetensi berbahasa dan bersastra peserta didik berkenaan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
    4) Mengidentifikasi jenis sumber pengembangan materi ajarTerdapat beberapa jenis sumber pengembangan materi ajar, seperti buku,
    laporan hasil penelitian, dan jurnal. Buku teks pelajaran yang diterbitkan oleh
    berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks pelajaran yang digunakan sebagai sumber belajar untuk suatu jenis mata pelajaran tidak harus hanya satu jenis, apalagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks pelajaran agar dapat diperoleh wawasan yang luas. Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber belajar yang aktual atau mutakhir. Jurnal merupakan penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran yang sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber belajar.
    Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli sesuai bidang masing-masing yang telah dikaji kebenarannya.
    5) Menyusun kerangka materi ajar dituliskan dalam bentuk butir-butir (berdasarkan referensi)Kerangka materi ajar yang dikembangkan harus diperhatikan dari segi cakupan, jenis, serta kedalamannya. Tentulah hal tersebut harus pula didasarkan atas situasi dan keadaan sekolah atau lokasi sekolah. Sekolah yang berada di desa berbeda dengan di kota; sekolah yang minim sarana berbeda dengan sekolah yang sudah memadai dalam sarana; dan sebagainya.
    6) Mengembangkan materi ajar berdasarkan butir-butir dengan memanfaatkan referensiPerlu disadari bahwa menulis (termasuk mengembangkan materi ajar) bukanlah pekerjaan sendirian. Sebuah tulisan sesungguhnya dihasilkan dari proses kerja sama dengan karya-kaeya para penulis sebelumnya. Oleh karena itu, materi
    bahan ajar yang dikembangkan perlulah untuk selalu didasarkan atas berbagai referensi.
    Indikator: Menyebutkan jenis-jenis makanan hewan (IPA Kelas IV SD)
    Tujuan Pembelajaran: Menyebutkan jenis-jenis makanan hewan meliputi hewan darat dan hewan air.
    Materi pembelajaran:
    Jenis-jenis makanan hewan:
    §  Jenis-jenis makanan hewan hidup di darat
    §  Jenis-jenis makanan hewan yang hidup di air
    6. Metode pembelajaran dalam RPPA. Metode KomunikatifTeori belajar kognitif dan konstruktivistik menjadi inspirasi bagi lahirnya
    pendekatan komunikatif di dalam pembelajaran bahasa. Asumsi yang mendasari pendekatan komunikatif adalah pandangan tentang bahasa dan pembelajaran bahasa selalu mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan paradigma
    pembelajaran.
    Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang dilandasi oleh
    pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam komunikasi merupakan
    tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Artinya, bahasa tidak hanya
    dipandang sebagai seperangkat kaidah mengenai struktur bahasa, tetapi lebih luas
    lagi, yakni sebagai sarana untuk berkomunikasi. Bahasa ditempatkan sesuai
    dengan fungsinya, yakni fungsi komunikatif. Pendekatan ini didasarkan pada
    pemikiran bahwa:
    a) Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang lebih luas
    tentang bahasa. Hal ini terutama menyebabkan orang melihat bahwa bahasa
    tidak terbatas pada tata bahasa dan kosakata, tetapi juga pada fungsi
    komunikatif bahasa.
    b) Pendekatan komunikatif membuka diri bagi pandangan yang luas dalam
    pembelajaran bahasa. Hal itu menimbulkan kesadaran bahwa mengajarkan
    bahasa tidak cukup dengan memberikan kepada siswa bagaimana bentukbentuk
    bahasa, tetapi siswa harus mampu mengembangkan cara-cara
    menerapkan bentuk-bentuk itu sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana
    komunikasi dalam situasi nyata dan waktu yang tepat.
    Di samping pemikiran tersebut, pendekatan komunikatif juga memiliki
    ciri-ciri sebagai berikut:
    a) Hanya kegiatan yang menunjukkan komunikasi yang sebenar yang
    mendorong siswa belajar berbahasa. Misalnya, jika guru bertanya kepada
    siswa dan guru mengetahui jawabannya, hal demikian bukanlah tergolong
    ke dalam komunikasi sebab di dalam bertanya itu tidak terdapat
    kekosongan informasi.
    b) Kegiatan-kegiatan berbahasa yang bertujuan untuk mengerjakan tugastugas
    yang bermakna dapat mendorong siswa untuk belajar.
    c) Materi silabus komunikatif disiapkan sesudah diadakan suatu analisis
    kebutuhan.
    d) Penekanan dalam pendekatan komunikatif adalah pada siswa dan pada apa
    yang diharapkan dari belajar bahasa itu. Artinya, penyajian materi dan
    kegiatan-kegiatan di kelas harus berpusat pada siswa.
    e) Peranan guru adalah sebagai fasilitator, penyuluh, penganalisis kebutuhan
    siswa, dan pengelola kelompok.
    f) Peranan materi pembelajaran dalam pendekatan komunikatif adalah
    sebagai penunjang pelatihan berkomunikasi secara aktif. Materi ini meliputi wacana, tugas, dan bahan otentik (Sumardi, 2000; Subyakto-
    Nababan, 1993; Yalden, 1985).
    Mengenai pendekatan komunikatif dapat dipahami lebih konkret
    melalui ilustrasi berikut. Guru yang mendasarkan diri pada bentuk-bentuk
    gramatikal (seperti bentuk fonem, morfem, pola kalimat, dan kosakata) serta
    menekankan cara-cara bagaimana bentuk-bentuk itu digunakan untuk
    menyusun kalimat-kalimat gramatikal menunjukkan bahwa guru
    menggunakan pendekatan struktur atau tata bahasa di dalam pembelajaran
    bahasa. Sementara itu, guru yang mendasarkan diri pada ragam wacana serta
    makna dan dihubungkan dengan situasi serta konteks berbahasa
    menunjukkan bahwa guru tersebut menggunakan pendekatan komunikatif.
    B. Metode Whole LanguageBerdasarkan paparan tersebut tampak bahwa pembelajaran bahasa Indonesia
    tidak lagi diorientasikan kepada target penguasaan struktur bahasa. Hal ini
    diperkuat oleh pendekatan whole language. Pendekatan ini menekankan pada belajar
    berbahasa dan bersastra secara terpadu, baik membaca, menulis, mendengarkan,
    berbicara, kebahasan, serta kesastraan. Padahal, apabila kita cermati secara saksama,
    pembelajaran bahasa adalah menyeluruh. Artinya, bila anak tersebut belajar
    membaca, secara tidak langsung anak tersebut belajar mendengarkan, berbicara,
    menulis, kebahasaan, serta kesastraan. Pembelajaran bahasa yang dipaket dalam
    satu kemasan dengan memusat pada satu tema adalah pembelajaran yang menarik
    bagi siswa. Model pembelajaran tersebut dikenal dengan Model Whole LanguageApproach.Whole Language Approach adalah suatu pendekatan terhadap pembelajaran
    bahasa secara utuh. Artinya, dalam pembelajaran bahasa kita mengajarkannya
    secara kontekstual, logis, kronologis, dan komunikatif serta menggunakan settingnyata dan bermakna. Di dalam pendekatan Whole Language terdapat hubungan yang
    interaktif antara mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, kebahasaan, serta
    kesastraan. Belajar bahasa harus terintegrasi ke dalam bahan yang tersirat dari
    kurikulum (hidden curriculum). Artinya, pembelajaran bahasa terpadu dengan
    perkembangan motorik, sosial, emosional, dan kognitif juga pengalaman, media,
    dan lingkungan siswa.
    Berdasakan paradigma dan pendekatan terbaru di dalam pembelajaran,
    paradigma belajar mengalami pergeseran dari belajar untuk menerima ke belajar
    untuk mengalami. Pergeseran juga terjadi di dalam memandang bahasa, dari bahasa
    sebagai pengetahuan mengenai struktur ke bahasa sebagai alat komunikasi. Di
    dalam pandangan baru, belajar bahasa itu akan lebih bermakna jika anak-anak mengalamiapa yang dipelajarinya (berbahasa dan bersastra), bukan
    mengetahuinya (tentang bahasa dan sastra). Pembelajaran yang berorientasi pada
    target penguasaan materi tentang bahasa dan sastra terbukti hanya berhasil di
    dalam mengingat jangka pendek tentang bahasa dan sastra, tetapi gagal di dalammengembangkan kemampuan berbahasa dan bersastra.C. Metode KooperatifKompetensi-kompetensi berbahasa dan bersastra Indonesia sangat beragam.
    Keberagaman ini berdampak pada ketepatan di dalam pemilihan strategi
    pembelajaran. Terdapat beberapa dimensi di dalam strategi kooperatif. Pertama, dimensi
    motivasi. Kelompok dapat dijadikan media untuk saling memberikan dorongan.
    Kedua, dimensi sosial. Dorongan itu dapat terjadi dalam bentuk saling memberi
    bantuan, memberi masukan, memberi kepercayaan, memberi inspirasi, dan
    sebagainya. Individu-individu menjadi bagian terpenting bagi keberhasilan
    kelompok. Ketiga, dimensi kognitif. Saling memberi merupakan proses berpikir.
    Siswa terdorong untuk mengolah berbagai informasi bagi pencapaian prestasi.
    Keempat, dimensi elaborasi. Setiap individu akan berusaha untuk memahami dan
    menggali informasi untuk memperkaya pengalaman kognitifnya.
    Peran yang dapat dilakukan guru adalah merancang pembelajaran secara tim.
    Guru harus mampu membuat setiap siswa ingin belajar. Kemudian, guru dapat
    menerapkan rancangan tersebut ke dalam perencanaan, pengorganisasian,
    pelaksanaan, dan penilaian. Guru juga dapat mendorong setiap siswa dalam tim
    untuk bekerja sama. Siswa bukan hanya memiliki tanggung jawab atas peran yang
    diberikan kepadanya, tetapi harus sampai pada munculnya kesadaran bahwa saling
    membantu merupakan prestasi yang amat tinggi di dalam hidup. Selain itu, guru
    juga dapat membantu siswa dalam kelompok untuk mengembangkan keterampilan
    bekerja sama. Keterampilan ini terutama menyangkut keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi. Berbagai hambatan yang muncul secara umum adalah rasa rendah
    diri, malu, takut salah, terbata-bata dalam berbahasa, dan sebagainya.
    D. Metode KontekstualStrategi kontekstual diambil secara utuh dari pendekatan kontekstual.
    Artinya, strategi ini dilandasi secara utuh oleh pendekatan kontekstual. Seperti juga
    di dalam pendekatannya, strategi kontekstual diturunkan lagi ke dalamt tujuh
    komponen utama, yakni konstruktif, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar,
    pemodelan, refleksi, dan penilaian otentik (Depdiknas, 2003).
    Strategi konstruktif merupakan strategi pembelajaran yang didasari oleh
    pemikiran filosofis bahwa perngetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi
    sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan bertahap.
    Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk
    ditransfer, melainkan seperangkat pengalaman yang siap untuk dimaknai melalui
    pengalaman nyata pembelajar. Dengan kata lain, konstruktif merupakan strategi
    belajar untuk menjadikan pengetahuan itu milik pembelajar.
    Strategi inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang terkait dengan
    kegiatan membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata pembelajar
    melalui kegiatan penemuan. Kegiatan penemuan merupakan strategi untuk
    memaknai dan memahami fakta, konsep, atau kaidah pengetahuan menjadi sesuatu
    yang dihasilkan dari kegiatan pembelajar, seperti melalui observasi, bertanya,
    membuat hipotesis, membuktikan hipotesis melalui pengumpulan data, serta
    menyimpulkan.
    Strategi bertanya merupakan strategi pembelajaran yang terkait dengan
    kegiatan memprediksi, meragukan, membuktikan, dan sekaligus sebaga upaya
    memperkuat strategi inkuiri. Penemuan dapat diperoleh melalui kegiatan bertanya.
    Artinya, bertanya menjadi awal bagi penemuan sesuatu yang baru.
    Sesuai dengan ciri sosiologis dari manusia, pembelajar adalah orang-orang
    yang saling membutuhkan orang lain. Untuk mencapai penemuan, diperlukan kerja
    tim. Pemikiran tim merupakan hasil dari kegiatan yang mengarah pada pembuktian
    kebenaran suatu konsep, fakta, atau kaidah pengetahuan, baik lama maupun baru.
    Cara demikian merupakan ciri dari strategi masyarakat belajar.
    Agar pembelajar mampu mengkonstruksi dan menemukan pengetahuan
    baru, seringkali diperlukan contoh konkret. Contoh konkret ini diidentifikasi dan
    diklasifikasi menjadi sebuah model atau pola yang kemudian dapat ditiru untuk
    mencipta sesuatu yang baru. Strategi ini dikenal dengan pemodelan.
    Strategi refleksi merupakan strategi pembelajaran kontekstual yang
    mengarah kepada pembayangan dan pemikiran terhadap segala yang telah maupun yang akan dipelajarinya. Kegiatan merenungkan serta memikirkan pengalamanpengalaman
    baru merupakan upaya memperkuat serta memaknai pengetahuan
    sehingga menjadi milik pembelajar.
    Data-data kemajuan pembelajar melalui berbagai strategi kontekstual
    haruslah teridentifikasi dan terklasifikasi menjadi suatu bahan untuk menentukan
    ada-tidaknya pemahaman dan pemilikan pengetahuan yang bermakna. Data-data
    ini merupakan daa-data otentik yang bernilai tinggi di dalam menentukan berhasiltidaknya
    belajar seseorang. Oleh karena itu, diperlukan strategi penilaian otentik
    untuk melihat kemajuan pembelajar.
    7. Komponen yang terdapat pada langkah Pembelajaran dalam RPP1. Mengisi kolom identitas
    2. Menenukan alokasi waktu yang dibuthkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
    3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun
    4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan
    5. Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran.
    6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
    7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.
    8. Menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan
    9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik peskoran, dll.
    8. Cara menentukan sumber belajar dalam RPP.
    Sumber balajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, narasumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.
    Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
    9. Susunan  perencanaan penilaian dalam RPP

    Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

    Senin, 11 Agustus 2014

    Ringkasan :

    Memperpendek karangan dengan tetap mepertahankan   keaslian pikiran-pikiran pokok dan sistematika  penulisan asli penulis dari tiap paragraf   tanpa ada perubahan sedikitpun.

    Public Vs Private Education: Differences

    While there are many differences between public and private schools, the primary difference is the approach to discipline. 
    In a private school the rules of the school are clearly laid out when you sign the contract to attend a private school. By signing the contract you agree to abide by the terms of the contract which include consequences for infraction of the discipline code. In a public school you have rights - constitutional rights which must be respected. The disciplinary process takes time and frequently is a cumbersome, complicated process. Students quickly learn how to play the system and can tie teachers up in knots for weeks over disciplinary matters.
    Discipline Promotes an Atmosphere for Learning
    When you are not fighting for control of a class, you can teach. Because parents send their children to private school to learn, the focus is on learning. Of course, there will still be the usual teenage experimenting with authority and the limits. But, as a rule, that kind of testing is fairly harmless. Why? Because everybody knows the rules. The code of conduct spells out serious consequences for disrespecting a teacher or a classmate. The code of conduct is enforced. Bullying is unacceptable behavior. Disruptive behavior is unacceptable. Fighting is unacceptable. Discipline promotes an atmosphere for learning.
    Discipline is a critical part of the three way partnership private school education is all about. When you sign the contract with the school, you commit to a three way partnership. While the school takes care of the academics and provides a host of other services while your child is in its care, you are still required to be involved. The school will not allow you to be a silent partner. It will insist on your involvement.


    Resume:

    Many differences between public and private schools, the primary difference is the approach to discipline. 
    In a private school the rules of the school are clearly laid out when you sign the contract to attend a private school. By signing the contract you agree to abide by the terms of the contract which include consequences for infraction of the discipline code. In a public school you have rights - constitutional rights which must be respected. The disciplinary process takes time and frequently is a cumbersome, complicated process. Students quickly learn how to play the system and can tie teachers up in knots for weeks over disciplinary matters. Discipline is a critical part of the three way partnership private school education is all about. When you sign the contract with the school.

    sumber:
    http://privateschool.about.com/cs/employment/a/advantages_2.htm 


    5 Financial Planning Tips for Children’s Education

    Every parent would want to give the best for their children, including education. Maximizing the interests and talents of the child through the best education is a parent’s dream. Therefore, the cost of children’s education is one of the things that should not neglect to prepare. Moreover, the estimated cost of education rises by 20 % each year which much greater than the change in inflation and salary increases.




    With this increase, the best way to prepare children’s education funds is investment. The following five tips below may help you more:



    Prepare early

    Investments take time to develop. The cost of education is usually a long- term targets that take more than 5 years to be achieved. Therefore, the sooner you start setting aside money and save it as investment, the better it will be.

    Plan your child’s education

    Plan your child’s education, such as the type of school you want (public school, private, or overseas), the type of education according to the interests and talents of your child (school of art, or medicine, etc.). After that, use the internet to browse the information of the estimated cost of your child’s education in the future.

    Calculate the amount of investment you need to do

    After getting the target cost of education, you can calculate the amount of investment you need to do to achieve those targets. Total investment is also influenced by the type of investment you are doing, for example education savings, mutual funds, etc.

    Get a Life Insurance

    You also have to think of the worst possible. What would happen if you or your spouse as a family breadwinner could no longer finance the family, such as illness or death? Prepare for your child’s protection, so when the worst happens, your child can still live decently and get the best education.

    Do not Doubt to Ask

    Knowledge of financial planning you can get from books, the internet, financial news, or ask family or friends who were/are investing. If necessary, you can also consult a financial planner to create a plan to fund the best education for your child.
    After having a good plan for the preparation of educational funds, you’ll need next is the discipline to execute the plan. Reevaluate your plan within a certain period, for example, once a year, adjust to the economic conditions, the condition of your finances, etc. Do all in order to give the best for your child!

    Resume:
    The cost of children’s education is one of the things that should not neglect to prepare. Moreover, the estimated cost of education rises by 20 % each year which much greater than the change in inflation and salary.
    With this increase, the best way to prepare children’s education funds is investment. The following five tips below may help you more:
    ü  Prepare early
    ü  Plan your child’s education
    ü  Calculate the amount of investment you need to do
    ü  Get a Life Insurance
    ü  Do not Doubt to Ask
    After having a good plan for the preparation of educational funds, you’ll need next is the discipline to execute the plan. Reevaluate your plan within a certain period, for example, once a year, adjust to the economic conditions, the condition of your finances, etc. Do all in order to give the best for your child!

    http://ratnasari.staff.stainsalatiga.ac.id/2014/02/04/5-financial-planning-tips-for-childrens-education/ 









    Senin, 07 Juli 2014

    How to Teach 1st Grade




    Teaching 1st grade will be different by teaching high school students. Required certain techniques so that the child can absorb lessons more fun considering the psychological child is still in the early learning stages.

    The voice sounded clear enough by children, intonation, etc. are things that are very important to be possessed by the teacher. For early elementary grades, they are still considered early childhood, before providing early childhood learning, as teachers need to recognize the characteristics of elementary school age children first. Do not forget to always give something new and varied for them. No need expensive, objects in the environment can be the object of exploration for children.

    The period is also very short of their concentration. Thus, teachers must have a second plan, and even third, fourth plan needs to be prepared for them so they do not saturate. Keep in mind that early childhood is a period play. Thus, the instruction given to them should be based on the principles of play (fun, children can explore, gain a lot of experience).

    Children are not miniature adults but they have the characteristics and uniqueness of each. So, do not equate them with the high school kids that are easier on the set and was able to concentrate for a long time.


    Resume:

    For early elementary grades, they are still considered early childhood, before providing early childhood learning, as teachers need to recognize the characteristics of elementary school age children first. Do not forget to always give something new and varied for them. No need expensive, objects in the environment can be the object of exploration for children.The Children are not miniature adults but they have the characteristics and uniqueness of each. So, do not equate them with the high school kids that are easier on the set and was able to concentrate for a long time.

    http://artikel-bahasainggris.blogspot.com/2013/01/how-to-teach-1st-grade.html 





    Rabu, 29 Mei 2013

    PEngajian Yusuf mansur Minggu 26 mei 2013


    Pengajian bulanan ustadz YUsuf mansur di istiqlal kemarin sangat hidmat dengan penuh sesaknya umat muslimin Yang berbondong-bondong ingin duduk paling depan. dengan membahas semua bisa jadi penghafal Al-Quran says jadi semakin termotivasi untuk, menghafal Al-Quran mu ya rab.:-)  bimbing hamba agar senantiasa ada d jalan mu yang lurus.





    Cuyet Blog © 2008 Template by:
    SkinCorner